D 6 : Osaka Castle, Namba, Dotonbori

pengalaman-ke-namba-belanja-pengalaman-jalan-jalan-di-osaka-dontonbori-iklan-glico-wings

Osaka dalam sekejap mata.Β  Willer Sleeper bus ini benar-benar membuat kami tidak merasakan perjalanan dari Toyama ke Osaka selama 5 jam. Ketika berada di dalam bus, saya langsung menggelar selimut, menutup kepala, dan tidur.

Seperti namanya, sleeper bus ini dibuat sedemikian rupa sehingga penumpangnya dapat tidur dengan nyaman dan aman. Bangun-bangun sudah sampai Kyoto dan sejam lagi sampai Osaka. Rasanya, malas sekali turun dari bus ini dan ingin melanjutkan tidur. Mungkin, efek capeknya drama Alpine Route.Β Lebih lanjut tentang Willer Sleeper Bus akan saya tulis di sini πŸ˜€ .

Kami tiba di Osaka, di dekat Umeda Building pukul 6 pagi. Begitu turun dari bus, suasana Osaka pagi masih sepi. Dibandingkan Tokyo, di Osaka lebih sedikit yang menggunakan huruf alphabet. Kebanyakan menggunakan huruf kanji yang membuat kami bingung. Kami berdua cukup lama berada di emperan toko untuk mencari tahu bagaimana cara ke Sun Plaza dan apa yang harus kami lakukan jika tidak bisa early check in.

Setelah celingukan dan mengotak atik Google Maps, kami pun menemukan stasiun metro. Di Osaka, kartu pass Osaka eco card one day pass menjadi pilihan kami karena harganya yang sangat murah.

CHECK IN DI SUN PLAZA HOTEL 2

sun_plaza_hotel_jepang_pengalaman_backpacker_ke_jepang

Ada beberapa Hotel Sun Plaza, tempat kami menginap adalah Hotel Sun Plaza 2. Dari luar, bangunannya tampak tua dan tidak terlalu menarik. Namun, di dalamnya sudah sangat modern. Bahkan, di resepsionis ada robotnya! Tapi, kami tetap dilayani oleh human. Hehehe. Waktu masih menunjukkan pukul 9. Kami deg-deg an apakah bisa early check in sepagi ini atau tidak. In case gak bisa, rencana kami adalah titip koper, lalu muter-muter gak tau kemana. Dan ternyata bisa! πŸ˜€ Kami memesan hotel ini via booking.com dan dibayar cash di tempat. Lebih lengkap mengenai hotel Sun Plaza saya tulis di sini. Begitu sampai kamar, mandi, siap-siap, lalu caw hanya menjadi wacana. Kami tertidur pulas. Hehehe.

OSAKA CASTLE

Selepas tidur siang, kami bersiap-siap untuk kembali menjalankan aktivitas liburan. Membawa koper melewati gunung-gunung salju benar-benar membuat kami lelah. Kami terbangun pada pukul 3 sore waktu Osaka. Hmm, sayang sekali sebenarnya karena melewatkan kesempatan yang bisa untuk muter-muter Osaka. Mengingat yen yang semakin menipis dan badan yang lelah, rasanya istirahat sejenak tidur adalah pilihan yang tepat. πŸ˜€

Mandi, makan pop mie, dan sholat jamak dhuhur-ashar selesai, kami segera menuju stasiun metro yang cukup jauh. Kalau stasiun JR, berada tepat di samping gedung hotel. Tapi, kami terlanjur membeli Osaka Eco Card Pass dan harga package JR lebih mahal. Tujuan pertama kami di Osaka adalah mengunjungi Osaka Castle.

Tiket masuk Osaka Castle gratis, kecuali jika akan memasuki museumnya. Saat itu, kami datang 45 menit sebelum museum tutup. Jadi untuk menghemat, kami tidak masuk museum dan berfoto-foto saja di depan Castle πŸ˜€ . Di sekitar Osaka Castle ada taman yang luas, banyak anak kecil dan orang dewasa yang sepeda-sepeda an di sini.

Oh iya, kami mempelajari hal baru. Tips ketika foto, adalah foto di tempat yang habis buat foto orang Korea karena mereka pintar mengambil angle yang pas. Saat itu, ada pasangan Korea yang meminta tolong saya untuk memotret lalu saya ikutin deh angle nya. Awalnya, takut buat duduk di atas batu begitu. Takutnya, itu hal yang sakral atau gimana gitu. Tapi, saat pasangan Korea itu berpose di atas batu, enggak ditegur sama penjaga. Jadi ikutan deh! πŸ˜€

Seperti di lokasi lain di Jepang, banyak bunga bermekaran di pot pot kecil. Kebetulan, bunga yang saya photo di Osaka Castle warnanya ungu semua. πŸ˜€

Hari sudah semakin sore dan orang-orang mulai meninggalkan Osaka Castle. Dari Osaka Castle, kami menaiki metro untuk menuju tujuan selanjutnya, yaitu Namba dan Dontonbori.

Ini juga sebelumnya ada orang Korea foto di sini, lalu kami ikutin. πŸ˜€

NAMBA

Kami merasa sangat beruntung berada di Osaka, karena di sini di merupakan surganya takoyaki. Kebetulan, kami berdua adalah pecinta Takoyaki. Harga Takoyaki di Namba berbagai macam. Ada yang murah mulai dari 50 yen per butir hingga 500 yen per porsi. Yap! Beberapa penjual memang ada yang menjual Takoyaki mereka per butir. Isiannya pun macem macem, yang pasti selalu ada Tako-nya alias gurita. Ada yang ditambahin keju, ginger, bonito flakes, dan lain sebagainya. Karena budget terbatas, kami membeli Takoyaki yang biasa-biasa aja. Yang membuat saya sangat senang adalah, Katsuobushi alias ikan cakalang asap yang biasa ditabur di atas Takoyaki bebas di ambil dan free refil! Hmm, jadi sedikit-sedikit deh makan Takoyakinya biar bisa ambil Katsuobushi banyak πŸ˜€

Jika belum sempat membeli oleh-oleh selama perjalanan di Jepang, Namba adalah tempat yang paling tepat. Di sini, kami menemukan segala jenis oleh-oleh mulai dari kaos kaki lucu, pakaian, teko-teko kuno, hingga camilan khas Jepang.Di Namba, juga ada Daiso. Cukup besar tetapi masih besar yang di Harajuku. Namba ini, seperti Pasar Beringharjonya Jogja.

Beberapa barang Hits seperti Anello bag dan Fjall Raven Kanken juga dijual di sini. Harganya super miring. Namun, saya “agak” meragukan keasliannya. Hehehe.

DONTONBORI

Bisa dibilang, Dontobori itu persis di sebelah Namba (tapi sebelah barat, selatan, utara, atau timuranya saya nggak tau hehe ). Yang pasti dekat sekali. Awalnya, kami hanya mengikuti direction dari Google Maps. Setelah berjalan tidak sampai 1 Km, tiba-tiba sampai πŸ˜€ Tujuan utama kami ke Dontonbori adalah mencari tempat berfoto popular di Dontonbori, yaitu iklan Glico Wings. Rasanya, gak lengkap kalau ke Osaka belum ke sini.

Selain Glico wings, Dontonbori juga tekenal dengan sungainya. Sungai tesebut terletak di antara pertokoan. Air sungai memantulkan cahaya dari videotron warna warni yang berisi Iklan. Seperti halnya Namba, di Dontonbori juga banyak penjual makanan dan pakaian. Waktu saya googling, ada kapal yang melintasi sungai ini. Namun, ketika saya berada di sini tidak melihat kapal sama sekali. Mungkin, waktu itu saya ke dontonbori terlalu malam. Walaupun sudah malam, masih ramai sekali. Berbeda dengan Harajuku yang toko-toko nya tutup pukul 8.

Di Dontonbori, kami makan sushi yang harganya mulai dari 100Β  yen. Penyajiannya berada di atas conveyor belt yang berjalan. Warna piring melambangkan harga dari satu porsi sushi tersebut, mulai dari 100 yen per porsi hingga lebih dari 300 yen per porsi. Di sini juga ada free hot ocha. Kita membuatnya sendiri dari bubuk teh, dan keran air panas yang ada di sana. Mau yang 100 yen sampai 300 yen, semuanya enak πŸ˜€ . Terutama karena sushinya mentah-mentah jadi segerrr.