Akhirnya Jadi Wisudawati ITB

berita-wisuda-itb-2017-sbm-itb-mahasiswa-itb-saraga-himpunan-itb-arak-arakan-wisuda-itb-2017-salam-ganesha-km-sbm-kmm

Perjuangan 3 tahun kuliah ngebut akhirnya sampai pada titik akhir. Rasanya sedih karena harus meninggalkan kampus yang penuh cerita ini, tapi juga senang bisa lulus tepat waktu dan buat bapak ibu senyum.

Sesudah sidang TA di bulan Juli lalu, mulai banyak teman yang hilang dan kembali. Sebagian pada internship, sebagian mengerjakan proyek, sebagian sudah kerja, dan sebagian mulai fokus mengembangkan bisnis mereka. Saya, memilih pulang ke Yogyakarta untuk proyekan sambil menunggu wisuda di Bulan Oktober nanti.

Walaupun sudah sidang, tetap ada beberapa persyaratan yang harus diikuti sebelum resmi menjadi wisudawan. Selain berkas-berkas administrasi, mahasiswa yang IPK-nya di atas 3.5 dari SBM wajib mengikuti conference jika ingin mendapat predikat cumlaude. Jadi, walaupun IPK diatas 3.5, kalau tidak mengikuti conference menjadi tidak cumlaude. Peraturan itu sepertinya hanya ada di SBM, jadi difakultas lain mungkin peraturannya berbeda.

INTERNATIONAL CONFERENCE

Sebenarnya, saya sangat malas untuk mengikuti international conference. Tapi, demi kenginan dan dorongan ibu, akhirnya saya ikut juga. Saat itu pula, ada poster conference di Sheraton Bandung yang fee nya cukup murah, yaitu Rp 1.500.000,-.

Di international conference, kegiatan kami adalah mendengarkan para pemateri, ikut workshop, presentasi, dan yang paling asyik adalah makan siang all you can eat di Sheraton! Karena international conference, semua kegiatan menggunakan Bahasa Inggris. Orang-orang di dalamnya pun berasal dari beragam negara, seperti Inggris, Australia, New Zealand, Singapore, U.S., dan lain sebagainya. Bahkan, ada pemateri workshop dari Harvard! πŸ˜€

Output yang saya dapet dari coference ini, selain sertifikat untuk syarat prodi, juga materi-materi berharga dari para narasumber. Yang paling ngena di dalam pikiran saya adalah workshop dari Gree Ventures Singapore mengenai bagaimana funding investment menganalisis startup yang mau mereka beri dana. Gree Ventures sendiri merupakan investor dari BukaLapak, BerryBenka, Kudo, dan lain sebagainya.

 

GRADUATION NIGHT

Graduation night ini adalah prosesi pengesahan wisuda dari SBM. Saat itu, lokasinya adalah di Mercure Bandung. Di sana, ada beberapa mahasiswa yang datang bersama orang tua, ada juga yang sendiri, termasuk saya πŸ˜€ .

Kami diminta untuk menggukan pakaian toga lengkap. Saat itu, saya datang terlambat karena abang gojek dan grab nggak ada yang mau ngantar dari Dago ke Mercure Setiabudhi πŸ™ . Akhirnya, diakalin dengan naik angkot dan opang. Ternyata, jalan menuju Setiabudhi itu macet banget, terlebih malam itu adalah malam sabtu.

Di graduation night ini, dibacakan pula mahasiswa mahasiswi yang mendapatkan pernghargaan dari SBM. Ada kategori motivator of the year, bisnis dengan kemungkinan sustainablenya besar, hingga yang akademiknya paling bagus. Saya pun masuk dalam kategori biasa-biasa saja πŸ˜€ .

Highlight dari acara ini, adalah berfoto-foto dengan teman-teman yang 3 bulan kemarin menghilang dengan kesibukan masing-masing. Lalu, nostalgia masa-masa kuliah dari foto-foto yang diputar. Malam ini, benar-benar menyadarkan saya jika sebentar lagi kami semua sudah melepas title mahasiswa.

 

WISUDA NIGHT

Jika graduation night diselenggarakan oleh SBM, wisuda night diselenggarakan oleh KM SBM atau Keluarga Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen. Lokasinya saat itu berada di taman Clove Garden Hotel dengan tema summer party. Jadi, dress code nya adalah pakaian summer ala-ala seperti kemeja bunga-bunga hingga baju Sabrina.

Acaranya simpel, tapi konsepnya keren banget! Ada tembok message rahasia untuk teman-teman kita, photo box ala-ala seperti di nikahannya Rachel Vennya, dan acara-acara musik. Karena saat itu saya sedang tidak ingin berada di keadaan terlalu ramai, akhirnya saya dan teman-teman duduk-duduk di taman belakang dekat kolam renang yang sunyi dan syahdu. Itung-itung untuk malam cimpi sebelum perpisahan.

 

GRADUATION DAY!

D day is come! Ayah, Ibu, dan kakak sudah berada di Bandung. Saya pergi ke MuA subuh-subuh saat mereka baru bersiap-siap untuk acara wisuda nanti. Kebetulan, MuAnya teman sendiri dan 2 orang lain yang didandani juga temen sendiri. Jadi, selesai MuA saya ke sabuga-nya bareng teman-teman. Sementara, Bapak dan Ibu sudah berada di sana dan Kakak masih di hotel.

Undangan wisuda hanya diperuntukan untuk wisudawan dan 2 orang, yang biasanya diisi oleh bapak dan ibu. Selebihnya, anggota keluarga/teman/pacar yang ikut hanya bisa menunggu di luar gedung hingga prosesi acara selesai. Jika ingin masuk, bisa membeli undangan dari wisudawan yang undangannya tidak terpakai. Harganya mahal banget! Satu undangan bisa diatas 1 juta. Hehehe.

Akibat mengikuti gladi wisuda terlambat, jadilah dag dig dug takut salah tingkah selama prosesi. Dan, ternyata segala sesuatunya jelas. Jadi, tinggal mengikuti alur saja. Setelah berbagai prosesi duduk, berdiri, dan menyanyikan lagu-lagu, akhirnya prosesi yang ditunggu-tunggu datang. Yaitu, dipanggil satu per satu menuju panggung dan bersalaman dengan rektor. Yap, hanya bersalaman saja, tidak dipindahkan tali ditopinya, atau pun dikalingun selempang.

Yang berkesan dari prosesi wisuda ini, adalah pesan kesan dari mahasiswa sebagian dibacakan. Dan dibacakannya secara jujur. Beberapa pesan mahasiswa berhasil membuat suasana sangat formal wisuda mencair. Lalu, setelah ditutup dengan do’a, acaranya wisuda pun selesai. Dan, seketika itu juga jadi merasa kehilangan sesuatu, entah apa, tapi rasanya ngganjel banget.

Oh iya, biaya wisuda yang harus dibayarkan adalah minimal Rp 750.000, dan kita bisa bayar lebih jika mau. Toga, topi, dan medali menjadi hak milik wisudawan. Jadi, bisa dibawa pulang. πŸ˜€

ARAK ARAKAN WISUDA ITB

Dulu, selagi berstatus mahasiswa, menonton dan ikut arak-arakan menjadi sesuatu yang seru. Dulu, saya dan teman-teman juga mengarak para wisudawan. Sekarang, kami yang diarak. Ada yang ber-dandan segala rupa agar seru, ada yang mengenakan jaket himpunan masing-masing sebagai identitas, ada pula yang membawa berbagai properti pendukung tema arak-arakan seperti kapal, maskot, kuda terbang, dan lain-lain.

Prosesi arak-arakan dimulai setelah wisudawan selesai foto dan keluar dari gedung sabuga. Begitu keluar, kami di sambut oleh masa himpunan yang memberikan kami bunga mawar. Semua wisudawan dikasih, jadi benar-benar merasa disambut oleh himpunan sendiri. Lalu, berjalan menuju lapangan saraga. Di sana banyak kerumunan massa mulai dari himpunan lain, hingga orang-orang yang sengaja ingin menonton arak-arakan. Para wisudawan dijaga oleh pahwalan himpunan yang mengepung barisan wisudawan, biar aman dan gak dempet-dempet an gitu… πŸ˜€

Saraga menjadi start awal arak-arakan. Di sana marching band (eaaa, pokoknya orang yang mukul-mukul ember / gallon ) untuk memeriahkan acara arak-arakan mulai beraksi. Tak lupa, kami memulai arak-arakan terlebih dahulu dengan salam 193. Tapi, saat itu marching band sbm niat banget sih sampe pake drum beneran.

Arak-arakan beberapa kali macet. Ya, memang selalu seperti itu karena masanya sangat banyak dan berusaha menjadikan himpunan mereka yang terbaik. Prosesi arak-arakan di tunnel, yang dulu saya biasanya saya cuma lihat dan ikut-ikutan, akhirnya benar-benar saya rasakan sebagai wisudawan juga.

Di tunnel, kami berhenti. Mendengarkan pesan kesan, salam singkat dari sesepuh himpunan seperti kahim. Lalu, meneriakkan lagi salam kami, salam 193. Deg-deg an, terharu, dan rasa kehilangan cukup mendalam mulai kembali hadir. Rasanya, belum sadar sadar juga kalau status mahasiswa sudah benar-benar lepas.

Selesai prosesi di tunnel, kami diarak keliling ITB. Marching band membunyikan musik mereka dan para massa bernyanyi. Seru dan terharu. Rombongan berhenti di lapangan basket, untuk perform sesuai dengan tema arak-arakan KM SBM saat itu. Selesai perform, hujan deras datang. Saat itu juga, jam sudah pukul lima dan saya memutuskan untuk kembali ke hotel dengan merasa kehilangan sesuatu. Mungkin, kehilangan status sebagai mahasiswa dan mungkin juga akan jarang kembali ke tempat yang ambiance-nya akan selalu saya rindukan, area coblong dan kesejukan kampus ITB.

Baca ini juga ya πŸ˜€Β 

PENGALAMAN JADI MABA ITB