Air Asia VS Lion Air, Pilih Mana?

pesawat-airaisa-airlines-sunrise

Disclaimer: Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi
Hmm, mending naik Air Asia atau Lion Air ya? Lebih aman dan nyaman yang mana sih?

Air Asia dan Lion Air merupakan maskapai LCC atau Low Cost Carrier Airlines, di mana pelayanan yang kita dapatkan tidak full service. Tidak dapat makan, bantal, selimut, dan entertainment. Walaupun begitu, maskapai LCC menjadi salah satu alternative untuk #travelingirit.
Lion Air

Terakhir kali saya menggunakan maskapai ini adalah pada bulan Mei 2017 dengan rute Yogyakarta-Jakarta PP. Sebelumnya, saya beberapa kali menggunakan maskapai ini untuk rute Yogyakarta-Balikpapan PP dan Yogyakarta-Bandung PP. Untuk penerbangan bulan Mei lalu, saya bingung antara pilih Air Asia atau Lion. Karena saya membutuhkan kapasitas bagasi yang besar, Lion Air menjadi pilihan saya.

Air Asia memberikan free bagasi untuk domestik 15 kg ditambah bagasi kabin 7 kg. Sementara, Lion Air memberikan free bagasi 20 kg. Saat itu, saya sempat deg-deg an tentang delay nya Lion Air. Apalagi, setelah saya membeli tiket beredar kabar jika ada rute Lion Air yang tiba-tiba dipindahkan; Soeta-Singapore menjadi Soeta-Johor Baru, ada kabar juga jika ada penumpang yang ditinggal karena pesawat berangkat lebih awal dari jadwal yang ditentukan, pesawat Jogja-Jakarta tidak jadi terbang dan masih banyak lagi. Padahal, saat itu saya mengejar pesawat menuju Tokyo dengan jeda waktu 9 jam. Antara bingung mau cancel atau tidak, akhirnya saya hanya ngencengin do’a saja. Hehehe. Bahkan, saya kepikiran berbagai skenario in case adalah masalah delay sampai esok hari, bagasi rusak, dan bagasi ilang mengingat banyak sekali review buruk tentang maskapai ini. Alhamdulillah, semua skenario tersebut tidak jadi dipakai.

Selama naik Lion Air, hanya satu kali tidak mengalami delay. Rata-rata delay yang saya alami antara 20 menit hingga 2 jam. Ternyata, menurut blog walking yang saya baca jika tidak ingin delay naik Lion, pilih penerbangan paling pagi. Dari Jakarta-Yogyakarta Mei 2017 lalu, saat itu saya memilih jam paling pagi. Benar. Tidak delay dan dapat pemandangan Gunung Merapi pagi.

Check in counter Lion Air sangat riweuh, terutama di Soeta. Ada saja penumpang yang lari-lari, ndrusel-ndrusel, gak mau antri, dan kelakuan bandel lainnya. Check in counter dan waiting room semua penuh. Mungkin karena maskapai ini murah dan memiliki banyak rute di Indonesia. Untuk rute Jogja-Jakarta PP di bulan mei 2017, harganya 700 ribu.

Pelayanan Lion Air menurut saya “tidak” baik. Bulan Mei 2017 kemarin, dari Yogyakarta menuju Jakarta, pesawat Lion Air yang saya tumpangi delay. Walaupun sudah masuk ke dalam pesawat, kami harus menunggu cukup lama, sepertinya lebih dari 30 menit. Saya merasa aneh, karena di dalam pesawat tapi panas dan engap. Lalu, pramugari mengumumkan jika pesawat tersebut AC nya memang dimatikan dan baru dinyalakan ketika sudah terbang. Ini pertama kalinya saya naik pesawat yang ACnya dimatiin. Di sepanjang perjalanan, karena hanya satu jam entah karena saya pas tidur atau bagaimana, tidak ada yang jualan makanan atau minuman.

 

Air Asia
Saya baru memberanikan diri menggunakan maskapai Air Asia di awal tahun ini setelah kejadian pesawat hilang dua tahun yang lalu. Karena sama-sama LCC seperti Lion, saya berkekspektasi maskapai ini seperti Lion Air. Ternyata, beyond expectation! Ada self check in, jadi saya tidak perlu mengantre panjang untuk check in, terlebih saya jarang drop bagasi. Awalnya saya mencoba maskapai ini rute Solo-Kuala Lumpur PP Januari 2017 dan ketagihan dengan kemurahan dan pelayanannya. Hehehe.

Saat terbang sekitar dua jam Solo – Kuala Lumpur menggunakan maskapai ini, makanan dan minuman berbayar disediakan. Kita juga bisa membeli secara pre order dengan harga yang cukup murah, kurang dari Rp 40.000 untuk seporsi makanan dan minuman. Selama menggunakan maskapai Air Asia rute Solo-Kuala Lumpur PP, Jakarta-Bangkok PP, dan Yogyakarta-Kuala Lumpur PP, saya hanya mengalami delay satu kali selama 15 menit.

Pramugari di Air Asia ramah-ramah. Mereka juga terkadang memberikan kejutan untuk penumpang. Saat teman saya akan membeli air mineral, karena air mineral yang dijual habis ia pun diberi aqua gelas gratis. Lalu, saat perjalanan Bangkok-Jakarta, pramugara menyanyikan lagunya Michael Jackson “Heal The World”. Walaupun sederhana, tetapi tetap memberikan kebahagiaan tersendiri bagi penumpang.

Program Big Poin-nya Air Asia juga menjadi cara mereka untuk membangun relationship yang membahagiakan dengan customer. Gimana enggak bahagia kalau bisa terbang gratis atau beli tiket dengan harga yang murah saat final call. Hehehe. Hanya saja, maskapai ini sedikit pelit dalam hal bagasi. Mereka hanya memberikan free bagasi kabin 7kg dan bagasi 15 kg untuk penerbangan domestik dan free 7 kg bagasi kabin saja untuk penerbangan internasional. Btw, untuk Solo- Kuala Lumpur PP harganya 500 ribu dan Jogja-Kuala Lumpur PP harganya juga 500 ribu! Hehehe murah kan, belinya saat final call 😀

 

Pilih yang mana?

 

Nah, jika ada pertanyaan tersebut dan selisih harga tidak sampai 100 ribu, saya lebih memilih Air Asia. Tipe kursi keduanya sama, warna gelap dari kulit dan tidak ada entertainment. Namun, keduanya tidak disarankan untuk penerbanga lebih dari tiga jam. Bagasi, makanan, entertainment, dan kenyamanan kursi perlu dipertimbangkan untuk menggunakan maskapai ini lebih dari 3 jam. Karena, jika kita menambah bagasi dan membeli makanan harganya mirip-mirip sama full service.